
Tugu Sepeda hadir sebagai penanda perubahan paradigma mobilitas di jantung kota Jakarta. Ditempatkan di koridor Jalan Jenderal Sudirman, kawasan dengan intensitas pergerakan dan aktivitas ekonomi tertinggi, karya ini menjadi simbol peralihan dari dominasi kendaraan bermotor menuju kota yang lebih manusiawi dan berkelanjutan.
Bentuk lingkaran dipilih sebagai metafora roda yaitu elemen dasar dari gerak dan efisiensi. Lingkaran juga merepresentasikan kesinambungan, keseimbangan, dan siklus kehidupan kota yang terus berulang. Melalui geometri sederhana ini, tugu dibaca sebagai bentuk universal yang melampaui narasi literal.










Permukaan berpori dengan pola perforasi terinspirasi dari komponen mekanis sepeda, seperti gir dan cakram, sekaligus menerjemahkan gagasan porosity dalam ruang kota. Massa yang berlubang memungkinkan cahaya, udara, dan pandangan menembus objek, menegaskan bahwa kota ideal adalah kota yang bernafas dan terbuka.
Secara spasial, Tugu Sepeda berfungsi sebagai titik fokus visual yang monumental namun tidak dominan. Siluetnya terbaca kuat dari kejauhan oleh pengguna kendaraan bermotor, sementara detail dan teksturnya mengundang pengalaman lebih intim bagi pejalan kaki dan pesepeda.
Lebih dari sekadar elemen estetika, Tugu Sepeda adalah pernyataan kuratorial tentang arah masa depan kota—sebuah pengingat bahwa kemajuan tidak selalu diukur dari kecepatan, melainkan dari kualitas gerak dan keberlanjutan hidup urban.




