Bangunan yang Baik Dimulai Jauh Sebelum Batu Pertama Diletakkan

An architect's hand-drawn floor plan sketch on tracing paper, resting on a wooden desk beside a small architectural model

Ada satu pola yang terus kami temui dalam berbagai proyek.

 

Semakin banyak waktu yang dihabiskan untuk berpikir sebelum pembangunan dimulai, semakin sedikit masalah yang muncul ketika pembangunan berlangsung.

 

Kedengarannya sederhana. Namun dalam praktiknya, banyak proyek justru berjalan sebaliknya.

 

Diskusi mengenai material, fasad, dan visual bangunan sering kali dimulai jauh lebih awal dibanding diskusi mengenai siapa yang akan menggunakan bangunan tersebut, bagaimana bangunan akan berkembang di masa depan, atau nilai apa yang sebenarnya ingin diciptakan.

 

Padahal justru di sanalah fondasi sebuah proyek dibentuk.

 

Bukan pada beton pertama yang dicor.

 

Melainkan pada pertanyaan-pertanyaan yang diajukan sebelum gambar pertama dibuat.

 

Sebagian Besar Keputusan Penting Tidak Terlihat

 

Ketika sebuah bangunan selesai dibangun, yang terlihat adalah hasil akhirnya.

 

Orang melihat fasad, ruang, material, dan detail yang membentuk karakter bangunan tersebut.

 

Namun sebagian besar keputusan yang menentukan kualitas sebuah bangunan sebenarnya tidak pernah terlihat.

 

Keputusan mengenai orientasi bangunan terhadap matahari.

 

Bagaimana seseorang bergerak dari satu ruang ke ruang lainnya.

 

Bagaimana sebuah ruang dapat beradaptasi terhadap kebutuhan yang berubah.

 

Bagaimana bangunan tersebut tetap relevan lima, sepuluh, atau bahkan dua puluh tahun ke depan.

 

Keputusan-keputusan inilah yang sering kali menentukan apakah sebuah bangunan hanya berhasil saat difoto, atau benar-benar berhasil saat digunakan.

 

Mengapa Banyak Proyek Menjadi Lebih Mahal dari yang Direncanakan

 

Ketika orang berbicara mengenai biaya pembangunan, perhatian biasanya tertuju pada harga material atau biaya konstruksi.

 

Padahal dalam banyak kasus, pembengkakan biaya justru berawal dari hal yang lebih mendasar: keputusan yang terlambat diambil.

 

Kami pernah menjumpai proyek yang menghabiskan waktu berbulan-bulan membahas jenis finishing yang akan digunakan, namun hanya beberapa pertemuan untuk membahas bagaimana bangunan tersebut akan beroperasi setelah selesai dibangun.

 

Ironisnya, keputusan kedua hampir selalu memiliki dampak yang lebih besar.

 

Ketika kebutuhan pengguna belum dipahami dengan baik, perubahan akan muncul di tengah proses pembangunan.

 

Ruang perlu disesuaikan.

 

Sirkulasi perlu diperbaiki.

 

Fungsi ruang berubah.

 

Dan setiap perubahan yang terjadi ketika konstruksi sudah berjalan hampir selalu membutuhkan biaya yang lebih besar dibanding jika dipikirkan sejak awal.

 

Karena itu, perencanaan yang matang bukan sekadar proses administratif sebelum pembangunan dimulai.

 

Ia adalah upaya untuk mengurangi ketidakpastian sebelum ketidakpastian tersebut berubah menjadi biaya nyata.

 

Arsitektur Bukan Tentang Membuat Bangunan Terlihat Mahal

 

Salah satu kesalahpahaman yang cukup umum adalah anggapan bahwa arsitektur terutama berkaitan dengan penampilan.

 

Padahal bangunan yang baik tidak selalu ditentukan oleh bentuk yang rumit atau material yang mahal.

 

Sebuah rumah dapat terlihat sederhana namun terasa nyaman selama puluhan tahun.

 

Sebaliknya, bangunan yang secara visual mengesankan belum tentu mampu mendukung aktivitas yang berlangsung di dalamnya.

 

Bagi kami, arsitektur tidak dimulai dari pertanyaan:

 

"Bangunan ini ingin terlihat seperti apa?"

 

Arsitektur dimulai dari pertanyaan yang lebih mendasar:

 

"Bangunan ini ingin menjadi apa?"

 

Karena ketika tujuan sebuah bangunan dipahami dengan baik, keputusan desain akan memiliki arah yang lebih jelas.

 

Bentuk kemudian hadir sebagai konsekuensi dari pemahaman tersebut, bukan sebagai tujuan utama.

 

Sebelum Digunakan, Bangunan Sudah Berkomunikasi

 

Setiap bangunan menyampaikan pesan.

 

Bahkan sebelum seseorang melangkah masuk ke dalamnya.

 

Sebuah kantor dapat menunjukkan bagaimana sebuah perusahaan memandang dirinya sendiri.

 

Sebuah institusi dapat mencerminkan nilai yang ingin diwariskan.

 

Sebuah rumah dapat menggambarkan cara hidup penghuninya.

 

Tanpa disadari, kita membaca bangunan sebagaimana kita membaca bahasa.

 

Melalui proporsi.

 

Melalui material.

 

Melalui cahaya.

 

Melalui cara bangunan berinteraksi dengan lingkungannya.

 

Karena itu, arsitektur tidak hanya berbicara tentang fungsi.

 

Ia juga berbicara tentang identitas.

 

Nilai Sebuah Bangunan Tidak Diukur Saat Bangunan Selesai

 

Serah terima proyek sering dianggap sebagai garis akhir.

 

Padahal bagi sebuah bangunan, itu hanyalah permulaan.

 

Pertanyaan yang lebih menarik bukanlah apakah sebuah bangunan terlihat baik pada hari pertama.

 

Melainkan apakah bangunan tersebut masih bekerja dengan baik bertahun-tahun setelahnya.

 

Apakah ruang-ruangnya tetap relevan.

 

Apakah pengguna merasa nyaman berada di dalamnya.

 

Apakah bangunan mampu beradaptasi terhadap perubahan kebutuhan.

 

Apakah investasi yang dikeluarkan pada awal proyek terus menghasilkan nilai di masa depan.

 

Dalam banyak kasus, kualitas sebuah bangunan baru benar-benar terlihat ketika waktu mulai mengujinya.

 

Tentang Cara Kami Bekerja

 

Di JXA, kami percaya bahwa setiap proyek berangkat dari sebuah pemahaman, bukan sebuah bentuk.

 

Karena itu kami tidak memulai proses desain dengan mencari referensi visual atau menentukan gaya tertentu.

 

Kami memulai dengan mendengarkan.

 

Memahami siapa yang akan menggunakan bangunan tersebut.

 

Memahami tujuan yang ingin dicapai.

 

Memahami konteks yang membentuknya.

 

Dari sana, desain mulai menemukan arahnya.

 

Setiap keputusan kemudian diuji bukan hanya dari bagaimana ia terlihat, tetapi juga dari bagaimana ia bekerja.

 

Karena pada akhirnya, bangunan yang baik bukanlah bangunan yang paling menarik perhatian.

 

Melainkan bangunan yang mampu terus memberikan nilai bagi orang-orang yang menggunakannya.

 

Penutup

 

Ketika sebuah proyek selesai dibangun, yang tersisa bukan hanya bangunannya.

 

Yang tersisa adalah bagaimana bangunan tersebut mendukung kehidupan, pekerjaan, interaksi, dan pengalaman yang terjadi di dalamnya.

 

Mungkin itulah alasan mengapa kami selalu percaya bahwa kualitas sebuah proyek ditentukan jauh sebelum pembangunan dimulai.

 

Bukan ketika batu pertama diletakkan.

 

Bukan ketika fasad selesai dipasang.

 

Melainkan ketika pertanyaan-pertanyaan yang tepat mulai diajukan.

 

Karena pada akhirnya, arsitektur bukan tentang membangun lebih banyak.

 

Arsitektur adalah tentang memahami dengan lebih baik apa yang sebenarnya layak untuk dibangun.

 

JXA Journal adalah ruang untuk berbagi pemikiran, proses, dan perspektif kami tentang bagaimana arsitektur dapat menciptakan nilai yang bertahan melampaui bentuk fisiknya.

Bangunan yang Baik Dimulai Jauh Sebelum Batu Pertama Diletakkan

An architect's hand-drawn floor plan sketch on tracing paper, resting on a wooden desk beside a small architectural model
An architect's hand-drawn floor plan sketch on tracing paper, resting on a wooden desk beside a small architectural model

Ada satu pola yang terus kami temui dalam berbagai proyek.

 

Semakin banyak waktu yang dihabiskan untuk berpikir sebelum pembangunan dimulai, semakin sedikit masalah yang muncul ketika pembangunan berlangsung.

 

Kedengarannya sederhana. Namun dalam praktiknya, banyak proyek justru berjalan sebaliknya.

 

Diskusi mengenai material, fasad, dan visual bangunan sering kali dimulai jauh lebih awal dibanding diskusi mengenai siapa yang akan menggunakan bangunan tersebut, bagaimana bangunan akan berkembang di masa depan, atau nilai apa yang sebenarnya ingin diciptakan.

 

Padahal justru di sanalah fondasi sebuah proyek dibentuk.

 

Bukan pada beton pertama yang dicor.

 

Melainkan pada pertanyaan-pertanyaan yang diajukan sebelum gambar pertama dibuat.

 

Sebagian Besar Keputusan Penting Tidak Terlihat

 

Ketika sebuah bangunan selesai dibangun, yang terlihat adalah hasil akhirnya.

 

Orang melihat fasad, ruang, material, dan detail yang membentuk karakter bangunan tersebut.

 

Namun sebagian besar keputusan yang menentukan kualitas sebuah bangunan sebenarnya tidak pernah terlihat.

 

Keputusan mengenai orientasi bangunan terhadap matahari.

 

Bagaimana seseorang bergerak dari satu ruang ke ruang lainnya.

 

Bagaimana sebuah ruang dapat beradaptasi terhadap kebutuhan yang berubah.

 

Bagaimana bangunan tersebut tetap relevan lima, sepuluh, atau bahkan dua puluh tahun ke depan.

 

Keputusan-keputusan inilah yang sering kali menentukan apakah sebuah bangunan hanya berhasil saat difoto, atau benar-benar berhasil saat digunakan.

 

Mengapa Banyak Proyek Menjadi Lebih Mahal dari yang Direncanakan

 

Ketika orang berbicara mengenai biaya pembangunan, perhatian biasanya tertuju pada harga material atau biaya konstruksi.

 

Padahal dalam banyak kasus, pembengkakan biaya justru berawal dari hal yang lebih mendasar: keputusan yang terlambat diambil.

 

Kami pernah menjumpai proyek yang menghabiskan waktu berbulan-bulan membahas jenis finishing yang akan digunakan, namun hanya beberapa pertemuan untuk membahas bagaimana bangunan tersebut akan beroperasi setelah selesai dibangun.

 

Ironisnya, keputusan kedua hampir selalu memiliki dampak yang lebih besar.

 

Ketika kebutuhan pengguna belum dipahami dengan baik, perubahan akan muncul di tengah proses pembangunan.

 

Ruang perlu disesuaikan.

 

Sirkulasi perlu diperbaiki.

 

Fungsi ruang berubah.

 

Dan setiap perubahan yang terjadi ketika konstruksi sudah berjalan hampir selalu membutuhkan biaya yang lebih besar dibanding jika dipikirkan sejak awal.

 

Karena itu, perencanaan yang matang bukan sekadar proses administratif sebelum pembangunan dimulai.

 

Ia adalah upaya untuk mengurangi ketidakpastian sebelum ketidakpastian tersebut berubah menjadi biaya nyata.

 

Arsitektur Bukan Tentang Membuat Bangunan Terlihat Mahal

 

Salah satu kesalahpahaman yang cukup umum adalah anggapan bahwa arsitektur terutama berkaitan dengan penampilan.

 

Padahal bangunan yang baik tidak selalu ditentukan oleh bentuk yang rumit atau material yang mahal.

 

Sebuah rumah dapat terlihat sederhana namun terasa nyaman selama puluhan tahun.

 

Sebaliknya, bangunan yang secara visual mengesankan belum tentu mampu mendukung aktivitas yang berlangsung di dalamnya.

 

Bagi kami, arsitektur tidak dimulai dari pertanyaan:

 

"Bangunan ini ingin terlihat seperti apa?"

 

Arsitektur dimulai dari pertanyaan yang lebih mendasar:

 

"Bangunan ini ingin menjadi apa?"

 

Karena ketika tujuan sebuah bangunan dipahami dengan baik, keputusan desain akan memiliki arah yang lebih jelas.

 

Bentuk kemudian hadir sebagai konsekuensi dari pemahaman tersebut, bukan sebagai tujuan utama.

 

Sebelum Digunakan, Bangunan Sudah Berkomunikasi

 

Setiap bangunan menyampaikan pesan.

 

Bahkan sebelum seseorang melangkah masuk ke dalamnya.

 

Sebuah kantor dapat menunjukkan bagaimana sebuah perusahaan memandang dirinya sendiri.

 

Sebuah institusi dapat mencerminkan nilai yang ingin diwariskan.

 

Sebuah rumah dapat menggambarkan cara hidup penghuninya.

 

Tanpa disadari, kita membaca bangunan sebagaimana kita membaca bahasa.

 

Melalui proporsi.

 

Melalui material.

 

Melalui cahaya.

 

Melalui cara bangunan berinteraksi dengan lingkungannya.

 

Karena itu, arsitektur tidak hanya berbicara tentang fungsi.

 

Ia juga berbicara tentang identitas.

 

Nilai Sebuah Bangunan Tidak Diukur Saat Bangunan Selesai

 

Serah terima proyek sering dianggap sebagai garis akhir.

 

Padahal bagi sebuah bangunan, itu hanyalah permulaan.

 

Pertanyaan yang lebih menarik bukanlah apakah sebuah bangunan terlihat baik pada hari pertama.

 

Melainkan apakah bangunan tersebut masih bekerja dengan baik bertahun-tahun setelahnya.

 

Apakah ruang-ruangnya tetap relevan.

 

Apakah pengguna merasa nyaman berada di dalamnya.

 

Apakah bangunan mampu beradaptasi terhadap perubahan kebutuhan.

 

Apakah investasi yang dikeluarkan pada awal proyek terus menghasilkan nilai di masa depan.

 

Dalam banyak kasus, kualitas sebuah bangunan baru benar-benar terlihat ketika waktu mulai mengujinya.

 

Tentang Cara Kami Bekerja

 

Di JXA, kami percaya bahwa setiap proyek berangkat dari sebuah pemahaman, bukan sebuah bentuk.

 

Karena itu kami tidak memulai proses desain dengan mencari referensi visual atau menentukan gaya tertentu.

 

Kami memulai dengan mendengarkan.

 

Memahami siapa yang akan menggunakan bangunan tersebut.

 

Memahami tujuan yang ingin dicapai.

 

Memahami konteks yang membentuknya.

 

Dari sana, desain mulai menemukan arahnya.

 

Setiap keputusan kemudian diuji bukan hanya dari bagaimana ia terlihat, tetapi juga dari bagaimana ia bekerja.

 

Karena pada akhirnya, bangunan yang baik bukanlah bangunan yang paling menarik perhatian.

 

Melainkan bangunan yang mampu terus memberikan nilai bagi orang-orang yang menggunakannya.

 

Penutup

 

Ketika sebuah proyek selesai dibangun, yang tersisa bukan hanya bangunannya.

 

Yang tersisa adalah bagaimana bangunan tersebut mendukung kehidupan, pekerjaan, interaksi, dan pengalaman yang terjadi di dalamnya.

 

Mungkin itulah alasan mengapa kami selalu percaya bahwa kualitas sebuah proyek ditentukan jauh sebelum pembangunan dimulai.

 

Bukan ketika batu pertama diletakkan.

 

Bukan ketika fasad selesai dipasang.

 

Melainkan ketika pertanyaan-pertanyaan yang tepat mulai diajukan.

 

Karena pada akhirnya, arsitektur bukan tentang membangun lebih banyak.

 

Arsitektur adalah tentang memahami dengan lebih baik apa yang sebenarnya layak untuk dibangun.

 

JXA Journal adalah ruang untuk berbagi pemikiran, proses, dan perspektif kami tentang bagaimana arsitektur dapat menciptakan nilai yang bertahan melampaui bentuk fisiknya.

An architect's hand-drawn floor plan sketch on tracing paper, resting on a wooden desk beside a small architectural model
An architect's hand-drawn floor plan sketch on tracing paper, resting on a wooden desk beside a small architectural model

Bangunan yang Baik Dimulai Jauh Sebelum Batu Pertama Diletakkan

Ada satu pola yang terus kami temui dalam berbagai proyek.

 

Semakin banyak waktu yang dihabiskan untuk berpikir sebelum pembangunan dimulai, semakin sedikit masalah yang muncul ketika pembangunan berlangsung.

 

Kedengarannya sederhana. Namun dalam praktiknya, banyak proyek justru berjalan sebaliknya.

 

Diskusi mengenai material, fasad, dan visual bangunan sering kali dimulai jauh lebih awal dibanding diskusi mengenai siapa yang akan menggunakan bangunan tersebut, bagaimana bangunan akan berkembang di masa depan, atau nilai apa yang sebenarnya ingin diciptakan.

 

Padahal justru di sanalah fondasi sebuah proyek dibentuk.

 

Bukan pada beton pertama yang dicor.

 

Melainkan pada pertanyaan-pertanyaan yang diajukan sebelum gambar pertama dibuat.

 

Sebagian Besar Keputusan Penting Tidak Terlihat

 

Ketika sebuah bangunan selesai dibangun, yang terlihat adalah hasil akhirnya.

 

Orang melihat fasad, ruang, material, dan detail yang membentuk karakter bangunan tersebut.

 

Namun sebagian besar keputusan yang menentukan kualitas sebuah bangunan sebenarnya tidak pernah terlihat.

 

Keputusan mengenai orientasi bangunan terhadap matahari.

 

Bagaimana seseorang bergerak dari satu ruang ke ruang lainnya.

 

Bagaimana sebuah ruang dapat beradaptasi terhadap kebutuhan yang berubah.

 

Bagaimana bangunan tersebut tetap relevan lima, sepuluh, atau bahkan dua puluh tahun ke depan.

 

Keputusan-keputusan inilah yang sering kali menentukan apakah sebuah bangunan hanya berhasil saat difoto, atau benar-benar berhasil saat digunakan.

 

Mengapa Banyak Proyek Menjadi Lebih Mahal dari yang Direncanakan

 

Ketika orang berbicara mengenai biaya pembangunan, perhatian biasanya tertuju pada harga material atau biaya konstruksi.

 

Padahal dalam banyak kasus, pembengkakan biaya justru berawal dari hal yang lebih mendasar: keputusan yang terlambat diambil.

 

Kami pernah menjumpai proyek yang menghabiskan waktu berbulan-bulan membahas jenis finishing yang akan digunakan, namun hanya beberapa pertemuan untuk membahas bagaimana bangunan tersebut akan beroperasi setelah selesai dibangun.

 

Ironisnya, keputusan kedua hampir selalu memiliki dampak yang lebih besar.

 

Ketika kebutuhan pengguna belum dipahami dengan baik, perubahan akan muncul di tengah proses pembangunan.

 

Ruang perlu disesuaikan.

 

Sirkulasi perlu diperbaiki.

 

Fungsi ruang berubah.

 

Dan setiap perubahan yang terjadi ketika konstruksi sudah berjalan hampir selalu membutuhkan biaya yang lebih besar dibanding jika dipikirkan sejak awal.

 

Karena itu, perencanaan yang matang bukan sekadar proses administratif sebelum pembangunan dimulai.

 

Ia adalah upaya untuk mengurangi ketidakpastian sebelum ketidakpastian tersebut berubah menjadi biaya nyata.

 

Arsitektur Bukan Tentang Membuat Bangunan Terlihat Mahal

 

Salah satu kesalahpahaman yang cukup umum adalah anggapan bahwa arsitektur terutama berkaitan dengan penampilan.

 

Padahal bangunan yang baik tidak selalu ditentukan oleh bentuk yang rumit atau material yang mahal.

 

Sebuah rumah dapat terlihat sederhana namun terasa nyaman selama puluhan tahun.

 

Sebaliknya, bangunan yang secara visual mengesankan belum tentu mampu mendukung aktivitas yang berlangsung di dalamnya.

 

Bagi kami, arsitektur tidak dimulai dari pertanyaan:

 

"Bangunan ini ingin terlihat seperti apa?"

 

Arsitektur dimulai dari pertanyaan yang lebih mendasar:

 

"Bangunan ini ingin menjadi apa?"

 

Karena ketika tujuan sebuah bangunan dipahami dengan baik, keputusan desain akan memiliki arah yang lebih jelas.

 

Bentuk kemudian hadir sebagai konsekuensi dari pemahaman tersebut, bukan sebagai tujuan utama.

 

Sebelum Digunakan, Bangunan Sudah Berkomunikasi

 

Setiap bangunan menyampaikan pesan.

 

Bahkan sebelum seseorang melangkah masuk ke dalamnya.

 

Sebuah kantor dapat menunjukkan bagaimana sebuah perusahaan memandang dirinya sendiri.

 

Sebuah institusi dapat mencerminkan nilai yang ingin diwariskan.

 

Sebuah rumah dapat menggambarkan cara hidup penghuninya.

 

Tanpa disadari, kita membaca bangunan sebagaimana kita membaca bahasa.

 

Melalui proporsi.

 

Melalui material.

 

Melalui cahaya.

 

Melalui cara bangunan berinteraksi dengan lingkungannya.

 

Karena itu, arsitektur tidak hanya berbicara tentang fungsi.

 

Ia juga berbicara tentang identitas.

 

Nilai Sebuah Bangunan Tidak Diukur Saat Bangunan Selesai

 

Serah terima proyek sering dianggap sebagai garis akhir.

 

Padahal bagi sebuah bangunan, itu hanyalah permulaan.

 

Pertanyaan yang lebih menarik bukanlah apakah sebuah bangunan terlihat baik pada hari pertama.

 

Melainkan apakah bangunan tersebut masih bekerja dengan baik bertahun-tahun setelahnya.

 

Apakah ruang-ruangnya tetap relevan.

 

Apakah pengguna merasa nyaman berada di dalamnya.

 

Apakah bangunan mampu beradaptasi terhadap perubahan kebutuhan.

 

Apakah investasi yang dikeluarkan pada awal proyek terus menghasilkan nilai di masa depan.

 

Dalam banyak kasus, kualitas sebuah bangunan baru benar-benar terlihat ketika waktu mulai mengujinya.

 

Tentang Cara Kami Bekerja

 

Di JXA, kami percaya bahwa setiap proyek berangkat dari sebuah pemahaman, bukan sebuah bentuk.

 

Karena itu kami tidak memulai proses desain dengan mencari referensi visual atau menentukan gaya tertentu.

 

Kami memulai dengan mendengarkan.

 

Memahami siapa yang akan menggunakan bangunan tersebut.

 

Memahami tujuan yang ingin dicapai.

 

Memahami konteks yang membentuknya.

 

Dari sana, desain mulai menemukan arahnya.

 

Setiap keputusan kemudian diuji bukan hanya dari bagaimana ia terlihat, tetapi juga dari bagaimana ia bekerja.

 

Karena pada akhirnya, bangunan yang baik bukanlah bangunan yang paling menarik perhatian.

 

Melainkan bangunan yang mampu terus memberikan nilai bagi orang-orang yang menggunakannya.

 

Penutup

 

Ketika sebuah proyek selesai dibangun, yang tersisa bukan hanya bangunannya.

 

Yang tersisa adalah bagaimana bangunan tersebut mendukung kehidupan, pekerjaan, interaksi, dan pengalaman yang terjadi di dalamnya.

 

Mungkin itulah alasan mengapa kami selalu percaya bahwa kualitas sebuah proyek ditentukan jauh sebelum pembangunan dimulai.

 

Bukan ketika batu pertama diletakkan.

 

Bukan ketika fasad selesai dipasang.

 

Melainkan ketika pertanyaan-pertanyaan yang tepat mulai diajukan.

 

Karena pada akhirnya, arsitektur bukan tentang membangun lebih banyak.

 

Arsitektur adalah tentang memahami dengan lebih baik apa yang sebenarnya layak untuk dibangun.

 

JXA Journal adalah ruang untuk berbagi pemikiran, proses, dan perspektif kami tentang bagaimana arsitektur dapat menciptakan nilai yang bertahan melampaui bentuk fisiknya.

SIAP MEMULAI PROYEK ANDA?

MMUULLAAII  KKOONNSSUULLTTAASSII

SIAP MEMULAI PROYEK ANDA?

MMUULLAAII  KKOONNSSUULLTTAASSII

SIAP MEMULAI PROYEK ANDA?

MMUULLAAII  KKOONNSSUULLTTAASSII

Jl. Taman Plesiran No.29, Kel. Cipaganti, Kec. Coblong, Kota Bandung, Jawa Barat 40131

Senin - Jumat 9:00 - 18:00 WIB

© 2026 JXA STUDIO

Designed & Developed by DHP

Jl. Taman Plesiran No.29, Kel. Cipaganti, Kec. Coblong, Kota Bandung, Jawa Barat 40131

Senin - Jumat 9:00 - 18:00 WIB

© 2026 JXA STUDIO

Designed & Developed by DHP

Jl. Taman Plesiran No.29, Kel. Cipaganti, Kec. Coblong, Kota Bandung, Jawa Barat 40131

Senin - Jumat 9:00 - 18:00 WIB

© 2026 JXA STUDIO

Designed & Developed by DHP